🛕 Sejarah Pura Siwa, Pujungan
Terletak di Banjar Margasari, Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Pura Siwa dahulu merupakan sebuah hutan keramat yang diselimuti aura mistis dan spiritual. Kini, kawasan suci ini menjadi salah satu tujuan utama bagi ribuan pamedek (bhakta) dari berbagai daerah di Bali, Jawa, bahkan hingga mancanegara. Apa yang membuat Pura Siwa begitu istimewa?
🌿 Perjalanan Menuju Pura Siwa
Meskipun jaraknya cukup jauh dari pusat Kota Tabanan, perjalanan menuju Pura Siwa tergolong mudah. Pamedek dapat mengambil arah Jalan Raya Gilimanuk, lalu mengikuti petunjuk menuju Pupuan. Setibanya di simpang empat Desa Pujungan, beloklah ke arah SMAN 1 Pupuan, dan sekitar 20 kilometer dari sana, pamedek akan tiba di kawasan hutan yang menjadi tempat berdirinya Pura Siwa. Sebelum mencapai pura utama, perjalanan akan melewati beberapa palinggih dari batu hitam dan pahatan kayu berbentuk Malen di pelinggih utama, yang dikenal sebagai Pura Malen.
🕉 Asal-Usul dan Hubungan dengan Pura Lain
Menurut Jero Mangku Wayan Sutarjana, Pura Malen merupakan pangayatan dari Pura Puncak Mengening Ulundanu Tamblingan, meskipun tidak menjadi satu kesatuan dengan Pura Siwa. “Biasanya orang menjadikan Pura Malen sebagai patokan, karena jika sudah ke Pura Malen pasti akan lanjut ke Pura Siwa,” ujarnya.
Dari Pura Malen, pamedek akan berjalan kaki sekitar 100 meter menyusuri jalan setapak menuju areal utama Pura Siwa. Di sana, dua patung tentara lengkap dengan senjatanya berdiri gagah menyambut kedatangan. Di bawahnya terdapat meriam dengan tulisan Linggih De Bagus Made di sisi kanan dan Linggih De Bagus Nyoman di sisi kiri. Patung tentara tersebut dipercaya sebagai perwujudan penjaga setia hutan keramat di masa lalu.
🙏 Tokoh Suci dan Simbol Spiritual
Tidak jauh dari sana, terdapat patung sosok pertapa bertubuh gempal bernama Budha Wiku Budi Dharma, dikawal oleh macan tutul di sisi kanan dan macan hitam di sisi kiri. Dikisahkan, beliau pernah melakukan tapa dan belajar di Gunung Batukaru.
Memasuki area utama, pamedek akan disambut oleh Lingga-Yoni yang terletak di tengah Madya Mandala, berdampingan dengan Bale Pasandekan dan Palinggih Pangayat Betara ring Gria Mas. “Lingga dan Yoni melambangkan prinsip laki-laki dan perempuan — asal mula dari segala kehidupan,” tutur Jero Mangku Sutarjana.
🔱 Berdirinya Pura Siwa
Awal berdirinya Pura Siwa bermula pada tahun 1993, ketika ditemukan arca Dewa Siwa dari perunggu di lokasi tersebut. Jero Mangku Sutarjana kemudian menerima wangsit untuk membangun pura di tempat itu. Pada tahun 2008, ia pun mewujudkannya dengan biaya pribadi, mendirikan Pura Siwa di kaki Gunung Batukaru bagian barat, yang dipercaya sebagai Gunung Kailash-nya Bali.
Walau dibangun secara pribadi, Pura Siwa terbuka untuk siapa pun — bukan hanya umat Hindu. “Banyak juga umat dari kepercayaan lain datang ke sini, karena tempat ini tidak hanya untuk sembahyang, tetapi juga untuk meditasi dan pembersihan diri seperti malukat,” jelasnya.
🌸 Areal Utama dan Keistimewaannya
Di Utama Mandala, berdiri patung Dewa Siwa setinggi 10,5 meter, duduk bersila megah. Di bawahnya terdapat patung Ganesha, Buddha, dan Siwa dalam ukuran lebih kecil. Di sisi kiri berdiri patung Lembu Nandini, wahana Dewa Siwa, sedangkan di kanan terdapat patung Dewi Parwati, sakti beliau, di mana juga terdapat sumber mata air alami yang diyakini suci.
Selain itu, terdapat pula patung sosok tua duduk bersila di bawah pohon Don Kayu Sugih (Daun Suji) yang tinggi menjulang hingga 20 meter. Sosok ini dikenal sebagai Payogan Ida Betara Lingsir (Situs) — tempat suci berstana beliau. Pohon suci ini menjadi salah satu ciri khas spiritual di kawasan pura.
💧 Ritual dan Piodalan
Selain bersembahyang, pamedek juga dapat melakukan malukat (pembersihan diri) dengan membawa bungkak nyuh gading dan lima, tujuh, atau sebelas jenis bunga. Tak jarang, umat datang untuk nunas tamba (memohon obat) atau kesembuhan.
Pura Siwa menjadi sangat ramai saat piodalan, yang jatuh pada Purwaning Tilem Kapat. Namun di luar hari piodalan pun, umat tetap diperbolehkan tangkil kapan saja.
Saat memasuki Madya Mandala, pamedek diwajibkan melepaskan alas kaki, sebagai bentuk penghormatan dan menjaga kesucian pura. Namun, perempuan yang sedang sebelan (datang bulan) dilarang memasuki area suci, karena dipercaya dapat menimbulkan akibat yang tidak baik.
🌄 Simbol Kesucian untuk Semua
Terletak di kaki Gunung Batukaru yang sejuk dan tenang, Pura Siwa kini menjadi salah satu destinasi spiritual utama di Bali Barat. Keindahan alamnya yang alami berpadu dengan makna spiritual yang mendalam, menjadikan pura ini bukan hanya tempat suci bagi umat Hindu, melainkan rumah spiritual untuk siapa saja yang mencari kedamaian, pencerahan, dan penyatuan diri dengan alam semesta.
